Seorang Lelaki dari Bukit Tandus

Sudah hampir 60 tahun dia berdiri tegak di sebuah Bukit Gersang nan Tandus. Tubuhnya yang kecil namun kekar seolah ingin bercerita tentang perjalanan hidupnya yang penuh liku, aku telah 60-an tahun bersama jiwa yang tegar ini.

Terlahir sebagai anak terakhir dari 7 bersaudara dari 2 ibu yang berbeda dan dari seorang lelaki yang sama. Kehidupannya dimulai dengan sebuah tangis yang memecah keheningan kampung yang tandus, dengan tradisi Sasak di atas tanah yang tidak pantas disebut tanah, karena hanya berisi bebatuan cadas perut bumi. Bukit  tersebut bernama Tibujae, sebuah kampung di desa Rensing Lombok Timur.

Dia seorang anak lelaki dari seorang ayah guru mengaji yang sehari-harinya menjadi buruh tani. Menjaga dan mengerjakan sawah seorang menak (bangsawan) dari Sakra yang bernama Mamiq Ya’kub. Ayahnya bernama Amaq Mustiarep yang biasa dipanggil Amaq Ayep.

Dia diberi nama Arifin, agar kehidupannya dipenuhi dengan kearifan dan kebijaksanaan, arif bagaimana menghadapi kehidupan ini, walaupun kehidupan ini penuh cobaan. 

Ketika usianya sudah memasuki masa masuk sekolah, dia disekolahkan di SDN 1 Rensing.

Belum sempat menamatkan SD, dia harus menghadapi kenyataan bahwa hidup ini bukan untuk bermanja. Kedua orang tuanya meninggalkannya dalam keadan yatim piatu, dengan warisan Kakak-kakak yang miskin, dan sepetak tanah tempat berdirinya gubuk reot beratap jerami.

Apa daya, hidup harus dilanjutkan. Hidup tidak berhenti hari ini, dan Kiamat tidak akan datang dalam beberapa menit itu.

Ketika ujian sekolah sudah mendekat, sebuah subuh yang masih gelap, dia berjalan menuju kuburan kampung tempat kedua orang tuanya berbaring tenang. Dia panjatkan doa-doa syahdu menusuk dinding hati, menerobos masa membentang harapan.  “Inaq…., amaq….., aku masih hidup, dan aku akan menjalani hidup ini tanpa kalian ketika aku dihardik orang, ketika aku ditagih orang, ketika aku ditertawakan orang, ketika aku…., bahkan ketika aku menghadap Tuhan kelak”.

Tak terasa sebatang pisau yang entah dibawanya tanpa sadar terlepas dari genggamannya, melukai kakinya yang telanjang dan kedinginan, terluka dan mengeluarkan darah.

Akhirnya pulanglah dia setelah berkeluh kesah di pusara kedua orang tuanya, dengan modal semangat yang tinggi, dia akhirnya bisa menamatkan SD nya dengan nilai yang memuaskan. Kemudian dengan dorongan kakaknya dan keyakinan ilmu harus dikejar jika ingin memenangkan hidup, dia lanjutkan sekolahnya di sebuah PGA 4 tahun di Pancor.

Ketika saatnya ujian, dia berangkat pulang ke Tibujae yang berjarak sekitar 15 km dari Pancor dengan berjalan kaki. Didapatinya kakak lelakinya sedang mengikat biji ubi (Sasak; ambon) untuk dijual.

Dia bercerita tentang kebutuhan uang untuk biaya ujiannya, namun sang Kakak menjawab; “Untuk makan hari ini, kita masih berhutang, bersabarlah adikku, nanti aku akan mencarikan hutang untuk biaya ujianmu”.

Selesai sekolah, dia sering membantu kakaknya menjadi buruh tani, sampai suatu waktu,  ketika dia memikul peralatan menggarap sawah (Sasak; ponggok gau), dia bertemu dengan seorang gadis yang dikenalnya di sekolah. Seorang gadis adik kelasnya.

Singkat cerita, dia menikahi gadis tersebut, seorang gadis desa tetangga. Seperti tradisi Sasak umumnya,  dia mengambil si wanita di malam hari dan mengajaknya ke kampung halamannya. Sesampai di Tibujae yang merupakan kampung halamannya, dia menitipkan gadis pilihannya di rumah kawannya, karena dia sadar bahwa gubuk reotnya sangat tidak pantas di tempati untuk gadis pilihannya tersebut.  

Akhirnya menikahlah dia, dan sang gadis pilihan akhirnya ditempatkan  di rumahnya yang asli. Rumah dengan atap jerami, berdinding pagar bambu dengan harta perabotan hanya berupa tikar dan bantal robek.

Selang beberapa lama, lahirlah seorang anak pertama mereka yang diberi nama Muhammad Hilmi. Kondisi ekonomi keluarga yang tidak menentu, memaksanya untuk pergi ke bagian selatan Pulau Lombok (Sasak: Gawah lauq), untuk membuka lahan baru, lahan tandus tanpa ada air tawar, dan hanya berharap akan air hujan untuk menghidupi tanamannya.

Hidup terasa berat sekali, dan akhirnya dia kembali ke Tibujae menjadi seorang guru agama honorer di sebuah madrasah Ibtidaiyah swasta.

Selang beberapa lama, ada pengumuman penerimaan pegawai negeri baru. Dan dia segera mendaftar bermodalkan ijazah PGA. Dengan meminjam sepatu kawannya yang kebesaran di kakinya, dia berangkat mengikuti ujian penerimaan pegawai negeri tersebut. Dan alhamdulillah dia lulus menjadi seorang pegawai negeri dan ditempatkan sebagai guru agama SD di SDN 4 Rensing.

Tidak lama kemudian, tanggal 25 Januari 1979, lahirlah anaknya yang kedua, seorang laki-laki, dan seolah-olah ingin bercerita bahwa anaknya ini sebagai pembuka kemudahan dalam kehidupannya. Akhirnya dia beri nama Muhammad Yusranil Fathi, dengan yusran dari bahas Arab yang berarti mudah, dan fathi dari bahasa Arab juga yang berarti pembuka.

Kini, setelah usianya 60-an tahun,  dia masih saja terbawa dengan masa lalunya, berjalan dengan tergesa dan gesit, dengan kaki telanjang menyusuri jalan-jalan lalu, dengan mata yang tak pernah menangis, dengan hati yang tak pernah mengeluh.

Saudara-saudaranya yang sudah mendahuluinya: Amaq Kake Mustiarep, Amaq Kake Minolah, Naq kake Inok, Naq kake Amah, Naq Kake Repah, Naq kake Ijoq. Semoga mereka semua termasuk dalam “Ya ayyatuhannafsul Mutmainnah, irji’i ila robbiki rodiyatan mardiyah, fadkhuli fi ‘ibadi wadkhuli jannaty”.

(Untuk ayahku, semangat hidupku, aku belum mampu dan tidak akan pernah mampu membalas kebaikan dan ketulusanmu membesarkanku. Ketabahanmu belum bisa aku warisi)

%d blogger menyukai ini: