Listrik dan Pembangunan Lombok; sebuah opini kanak Sasak

Kondisi Ketersediaan Daya Listrik

Secara nasional ketersediaan Listrik di Indonesia sangatlah timpang, dimana sekitar 80% ketersediaan listrik sekarang ini diprioritaskan untuk Pulau Jawa dan Bali, 10% lagi untuk Pulau Sumatera, dan sisanya 10% untuk kebutuhan listrik di kawasan Indonesia Timur termasuk NTB.

Sementara itu di NTB, dalam kurun waktu 1995 hingga 2003, kebutuhan tenaga listrik naik dengan tingkat pertumbuhan rata-rata 11 % per tahun.

Berdasarkan data dari PT. PLN (Persero) Mataram tahun 2004, daya terpasang 166,62 MW dengan daya mampu 95,461 MW, menunjukkan defisit daya listrik NTB sebesar 42,7%.

Sementara untuk Pulau Lombok sendiri, daya terpasang sebesar 113,681 MW atau sekitar 68,22% dengan daya mampu (tersedia) sebesar 59,06 MW (61,86% daya mampu NTB) atau defisit sebesar 48%.

Dari data lain terungkap, di propinsi NTB kabupaten Lombok Tengah merupakan kabupaten paling sedikit menikmati ketersediaan daya listrik dengan cakupan sekitar 83,95% dari total wilayahnya, dan kota Mataram merupakan wilayah paling sejahtera dalam menikmati ketersediaan listrik yang mencapai 100% dari total wilayahnya.

Kondisi tersebut mencerminkan ketidakseimbangan sumber daya yang tersedia dengan kebutuhan masyarakat NTB, serta keadilan sosial yang belum merata bagi seluruh masyarakat.

Ketersediaan sumber daya kelistrikan merupakan sesuatu yang mutlak untuk peningkatan pertumbuhan ekonomi masyarakat. Oleh karena itu, permasalahan ini hendaknya jangan dibiarkan berlarut-larut sehingga menjadi sebuah bom waktu bagi masyarakat NTB.

Sektor Ekonomi Masyarakat 

Sementara itu dari data laju pertumbuhan ekonomi NTB dalam kurun waktu 1995-2003 naik sebesar 7,0%,  yang tercermin pada nilai rata-rata Produk Domestik Regional Brutto (PDRB).

Angka ini sebenarnya bisa ditingkatkan apabila tingkat ketersediaan infrastruktur listrik terpenuhi. Karena hal ini akan berkorelasi positive terhadap peningkatan realisasi investasi di propinsi NTB.

Sektor-sektor pembangunan lain, sangatlah memiliki ketergantungan terhadap ketersediaan tenaga listrik, salah satunya sektor pariwisata yang menjadi andalan di NTB khususnya di Pulau Lombok. Pariwisata yang mengedepankan kenyamanan bagi tamu-tamunya, akan sangat terganggu dengan adanya pemadaman bergilir yang dilakukan PLN.

Wacana Pembangunan PLTU Teluk Endok

Rencana Pembangunan PLTU Teluk Endok, merupakan suatu jawaban pemerintah atas kebutuhan ketersediaan energi listrik bagi masyarakat Pulau Lombok. PLTU tersebut direncanakan memiliki kapasitas 2×25 MW yang berlokasi di Teluk Endok, sebelah selatan kota Mataram.

Namun sayangnya, hingga saat ini belum ada kejelasan kapan pembangunan Power Plant tersebut direalisasikan. Mengingat kebutuhan masyarakat yang mendesak, sebaiknya pihak pihak PLN membuka diri dengan kemungkinan masuknya Independent Power Plant.

PT. PLN bersama-sama dengan pemerintah NTB hendaknya segera mengambil tindakan dengan mengundang investor untuk pengadaan Power Plant, melalui mekanisme Independent Power Plant (IPP). Dimana dengan mekianisme ini, produksi listrik akan dilakukan oleh sektor swasta, kemudian PLN membeli listrik tersebut melalui prosedur Power Purchase Agreement untuk dijual lagi kepada masyarakat.

Hal ini sudah ditempuh oleh daerah-daerah lain untuk pemenuhan kebutuhan listrik di daerahnya.

Power Plant yang ramah lingkungan 

Terkait dengan isu lingkungan dan pemanasan global, serta Lombok sebagai salah satu ikon pariwisata di Indonesia, adanya Power Plant bisa menimbulkan dampak bagi lingkungan sekitar. Sehingga dalam pelaksanaannya nanti, harus ditekankan suatu sistem Power Plant yang betul-betul ramah lingkungan.

Power Plant tersebut diharapkan dapat menerapkan peraturan Bank Dunia yang mensyaratkan Total Suspended Particle (TSP) sebesar 50 mg/Nm3 pada emisi gas buangnya. Besaran tersebut lebih baik dibandingkan dengan besaran yang dipersyaratkan Kepmen KLH  tahun 1995 yang hanya menetapkan 150 mg/m3.

Untuk mencapai hal tersebut, perlu kiranya dipertimbangkan penggunaan teknologi Power Plant terkini dengan meninggalkan sistem konvensional, seperti mengganti penggunaan Pulverized Coal Boiler (PC Boiler) dengan sistem Circulating Fluidized Bed Boiler (CFB Boiler), harus juga dilengkapi dengan Waste Water Treatment Plant, Flue Gas Desulphurization (FGD), kontrol limbah dari Coal dan Ash Yard untuk betul-betul memastikan dampak lingkungan seminimal mungkin.

Other Reference:

www.ntb.go.id

3 Tanggapan to “Listrik dan Pembangunan Lombok; sebuah opini kanak Sasak”

  1. untuk power plant di lombok akan terlaksana kok dari pihak kontraktor (pihak saya) sudah mempersiapkan baik2 kok, kami tinggal menunggu kepastian dari pihak PLN masalah pembebasan tanah
    untuk masalah teknologi PLTU tersebut masih menggunakan tipe lama

    thanks

  2. Sampai saat ini belum ada berita jelas masalah PLTU lombok, sebenarnya sangat menguntungkan dengan menggunakan batu bara dari pada diesel, hampir 10 tahun saya di PLTU dan pembangkit diesel PT Newmont, dengan harga saat ini per mwhr kita costnya kurang dari USD30 sedangkan diesel bisa mencapai lebih USD150. Sayang Pemda NTB kurang tanggap dalam menyikapi infrastruktur.

  3. Mohon pada pihak terkait sesegera mungkin memikirkan nasib rakyat yang butuh listerik sbb masih banyak warga yang sama sekali belum bisa menikmatinya

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: