Ayo Kuliah di Unram

Posted in Uncategorized on Januari 21, 2010 by yusranil

Unram atau Universitas Mataram merupakan salah satu Perguruan Tinggi Negeri (PTN) di Indonesia, yang berlokasi di Mataram, Lombok, NTB.Sebagai sebuah universitas negeri, Unram tentunya memiliki fasilitas yang relatif sama atau setidaknya tidak jauh berbeda dengan PTN lainnya di Indonesia.

Mengapa harus kuliah di Unram? Mengapa ya, pertama karena saya kuliah disana, dan merasa enak, jadi ngajak deh. Ngerasa enaknya kenapa, pertama biaya murah, terus fasilitas memadai, mulai dari gedung, laboratorium, perpustakaan, dan lainnya. Dan satu lagi neh, karena PTN, kalau PTN, yaa, banyak untungnya lah.

Kalau kuliah di Unram, nanti susah cari kerjanya. Siapa bilang? Nyari kerja itu susah atau gampang, tidak semata-mata karena almamater tapi lebih tergantung kepada individunya. Banyak orang yang kuliah di PTN favorit yang baru dengar saja sudah terkagum-kagum, eh nganggur, tapi ada juga yang kuliahnya di kampus biasa saja, malah sukses. Jadi faktor individunya yang lebih dominan, kalau individunya dulu kuliah tujuannya buat cari kerja bukan buat cari ilmu, yah itu, banyak nganggur, kalau kerja, ya paling ga terlalu sukses, karena dia orientasinya hanya kuliah buat cari kerja. Coba dia kuliah tujuannya buat cari ilmu, udah pinter, otaknya muter, pola pikirnya terbentuk, bisa melihat peluang, mampu mengenali dirinya, baik potensi maupun kekurangannya, dia bisa cepat cari kerja, juga bisa buatkan orang lapangan kerja, bisa jadi Bosssss. Itu dari sisi duit, belum dari sisi lainnya.

Ah, setelah saya di Jakarta, saya merasa bersyukur sekali, bisa kuliah, kalau saya hidup di Jakarta dan mau kuliah, mimpi kali yee. Saya bisa kuliah, ya di Unram, karena murah gitu loh tapi kualitas ga tergadai.

Mechanical Work Pada Project PLTU

Posted in Steam Power Plant (PLTU) on April 10, 2008 by yusranil

Secara umum, Pekerjaan/Peralatan Mekanikal pada suatu Project PLTU itu adalah sebagai berikut (ini hanya pengalaman pribadi saja):

  1. Boiler dan Auxiliary-nya, seperti Primary Fan, Secondary Fan, ID Fan, termasuk Auxiliary Boiler untuk start up.
  2. Steam Turbine dan Auxiliary-nya
  3. Condenser dan Feed water Heater. Jumlah dan Konfigurasi LP maupun HP Heaternya sangat tergantung dari desain dan kapasitas Power Plant itu sendiri. Dalam lingkup Pekerjaan/Peralatan ini, termasuk juga Deaerator.
  4. Water Plant System, mulai dari Desalination Plantnya, Demineralized (Water Treatment Plant), sampai sistem make up water untuk Boiler.
  5. Waste Water Treatment Plant
  6. Fire Protection System
  7. Compressed Air System, baik untuk Air service, maupun untuk Air Control Instrumentation.
  8. Chemical Feed System, untuk supply Amonia, Hydrazine, dan Chemical yang diperlukan untuk kontrol kualitas air Boiler.
  9. Sampling Rack System, untuk kontrol kualitas output/produk Steam Generator
  10. Laboratory
  11. Chlorination System, untuk mencegah pertumbuhan jamur dalam sistem perpipaan.
  12. Air Conditioning and Ventilation
  13. Elevator, Crane and Hoist, termasuk di dalamnya Overhead Crane untuk maintenance Steam Turbine, Circulating Water, Elevator pada Boiler, Gantry dan lainnya.
  14. Workshop and Machinery System
  15. Heavy/Mobile Equipment
  16. Fuel Oil System, biasanya diperlukan untuk start up Boiler maupun untuk cadangan (emergency)
  17. Coal Handling System, mulai dari Ship Unloader, Stacker reclaimer, Coal Crusher, Coal conveyor, dan juga coal sampling system.
  18. Ash Handling System, yang meliputi Fly Ash System, biasanya ditangani oleh Electrostatic Precipitator ataupun Bag Filter system, sementara satunya lagi adalah Bottom Ash System.

Demikian gambaran singkat dan sederhana dari Pekerjaan/Peralatan mekanikal pada suatu sistem Coal Fired Steam Power Plant. Ini hanya catatan saja, siapa tahu suatu saat tidak di project Power Plant, jadi masih ingat.

PLTN dan Geothermal itu PLTU juga koq

Posted in Steam Power Plant (PLTU) on April 9, 2008 by yusranil

Sekedar menulis agar blog tidak terkesan ga pernah diupdate,

PLTN dan Geothermal itu PLTU juga koq, lah koq begitu?

PLTU kan type salah satu pembangkit listrik, seperti juga PLTN dan Geothermal, tapi koq bilang termasuk PLTU??

Kalau mengacu ke PLTU adalah Pembangkit Listrik Tenaga Uap, maka PLTN dan Geothermal juga sama, sama-sama menggunakan uap untuk memutar Turbin-Generator.

Bedanya simple saja, PLTU itu menghasilkan uap melalui proses pembakaran batubara atau minyak di Boiler, jadi bahan bakarnya Batu bara atau Minyak, sedangkan PLTN menghasilkan uap dengan memanfaatkan panas yang dilepas dari bahan bakar Nuklir tersebut.

Kalau Geothermal, menggunakan uap yang dihasilkan oleh energi panas bumi kita, tinggal di ambil dan putar turbinnya.

Jadi mungkin yang lebih tepat, PLTU itu adalah kata umum dari PLTN, Geothermal, dan Pembangkit Listrik Tenaga Batubara atau Minyak, hehehe.

Kalau begitu semuanya dong disebut PLTU saja. Ya ga bisa juga, kan ada PLTA yang pakai air, hehehe.

Beberapa Equipment Coal Fired Steam Power Plant

Posted in Steam Power Plant (PLTU) on Januari 25, 2008 by yusranil

(“Aku tidak banyak tahu, tapi sedikit yang aku tahu semoga bisa membawa manfaat, semoga anda yang tahu aku tidak banyak tahu, bisa membuatku bertambah tahu, mohon kritik dan sarannya”)

Aux boiler

Auxiliary Boiler

Auxiliary Boiler biasanya digunakan saat Power Plant Start up.  Auxiliary Boiler ini berperan sebagai penyedia uap untuk: start up heating dan pressure pegging pada low load di deaerator, desalination plant, oil burner atomizing serta purging, dan beberapa peralatan yang membutuhkan steam untuk pengoperasiannya.

Sebuah auxiliary Boiler, biasanya memiliki kapasitas sekitar 10 – 15 Ton/hr.

MSF Desalination system

Water Plant System

Dalam sebuah Steam Power Plant, Water Plant sangatlah vital untuk menyediakan fresh water. Fresh water ini digunakan untuk Boiler make up water, Cooling system, Plant utility (waste water treatment, regeneration, etc) dan beberapa penggunaan secara intermittent.

Biasanya dalam sebuah Steam Power Plant, raw waternya menggunakan seawater. Seawater, selain berfungsi sebagai raw water pada Water Plant, juga digunakan sebagai cooling water pada Condenser.

Seawater diolah menjadi fresh water melalui sebuah Desalination Plant. Secara umum, Desalination Plant ini ada beberapa jenis berdasarkan metode pemurniannya, ada yang type Destillation dan ada juga type membrane.

Desalination Plant dengan sistem destilasi, terbagi lagi menjadi type MSF (Multi Stage Flash) dan TVC (Thermal Vapour Compression). Dan untuk start up, steam biasanya disuplay dari Auxiliary Boiler, sedangkan kalau sudah operasi, steam disuplay dari Auxiliary Steam Header.

Sedangkan jenis membrane dikenal dengan istilah RO (Reverse Osmosis).

Coal Stacker

Coal Handling System

Coal sebagai bahan bakar pada Steam Power Plant, biasanya disupplay dari tambang menggunakan Barge (untuk Power Plant yang terletak di pinggir pantai, dan tidak memungkinkan melalui darat).

Untuk proses Unloading di Jetty Power Plant, Jetty biasanya dilengkapi dengan Ship Unloader. Dari Ship Unloader, coal ditransfer ke area Power Plant menggunakan coal conveyor dan distack menggunakan Stacker Reclaimer di Coal Yard.

Nama-nama Khas Sasak

Posted in Sasak Lombok on Januari 2, 2008 by yusranil

Berbicara tentang “nama”, nama merupakan suatu hal yang mutlak dalam suatu benda, dengan nama tersebut, kita bisa bercerita atau menjelaskan maksud kita pada yang lain. Nama merupakan suatu instrumen untuk mengenali dan mengindikasikan suatu benda atau orang.

Sebuah nama sering dijadikan sebagai judul bagi karakter, penampilan serta impresi terhadap seseorang. Bahkan seorang peramalpun, sering menggunakan nama sebagai data awal dalam memahami dan melakukan ramalan terhadap seseorang. Sebuah nama, kadang-kadang menginformasikan kepada kita, bahwa seseorang itu berasal dari suatu daerah, suku, atau keluarga tertentu seperti nama-nama yang kita dapatkan dari warga suku Batak. Dan selain itu sebuah nama juga bisa menginformasikan seseorang itu beragama apa, dari daerah mana, keturunan siapa, kalangan biasa atau bangsawan, jenis kelamin, dan lain sebagainya. Meskipun nama juga kadang menipu…

Nama bagi Orang Sasak 

Di Lombok yang mayoritas didiami suku Sasak, seperti daerah lainnya, penduduknya memiliki nama-nama yang khas yang sering menunjukkan dia berasal dari Lombok.

Dalam kultur masyarakat Sasak, pemberian nama bagi seorang bayi dilakukan saat “pra api”. Nama bagi masyarakat Sasak, sering diartikan sebagai sebuah doa dan identitas bagi anaknya.

Karena masyarakat Sasak mayoritas beragama Islam, sebagian masyarakatnya sering memberikan nama-nama dengan harapan namanya tersebut merupakan doa bagi anaknya seumur hidupnya, bahkan sepanjang masa sekekal waktu anaknya dihadirkan dalam takdir Ilahi (dunia dan akhirat).

Sayangnya, tidak sedikit  masyarakat Sasak yang berpikir sempit bahwa doa hanya semestinya menggunakan bahasa Arab, sehingga nama-nama khas Sasakpun, meskipun memiliki arti yang baik dan dapat diniatkan sebagai doa, secara perlahan mulai tidak diminati lagi, padahal kita semua mungkin sepakat, bahwa Tuhanpun mengerti bahasa Sasak ketika kita berdoa menggunakan bahasa Sasak.

Memang bukanlah suatu masalah apakah orang tersebut akan memiliki nama yang Islam atau yang berbau Sasak. Namun yang ingin dikemukakan adalah bagaimana menyamakan persepsi sekaligus sosialisasi ke kalangan umum (khususnya luar Sasak) tentang nama-nama khas Lombok.

Memang ada juga nama-nama  yang cukup populer khas Lombok seperti “Lalu” untuk laki-laki dan “Baiq” untuk perempuan. Sayangnya keberadaan nama Lalu dan Baiq, terbatas pada kalangan bangsawan Lombok saja.

Nama Khas Sasak Sebagai Identitas 

Kita mungkin sering mendengar nama-nama Lubis, Harahap, Sitompul, dan kita cukup yakin bahwa mereka itu adalah orang Batak. Ada juga Suwarno, Hardjo, Tarno, Bambang, Poniyem, adalah nama-nama bagi orang Jawa. Untuk suku Sunda, kita sering mendengar nama Asep, Cecep, Dede, Eep, Endang dan lain-lain, sedangkan bagi orang Bali kita sering mendengar nama Wayan, Made, Nengah, Putu dan lain sebagainya.

Bagaimana dengan Sasak Lombok? Kita juga tentu memiliki nama-nama yang khas Sasak Lombok, sayangnya tidak sepopuler seperti dari etnis tersebut di atas

Nama-nama khas Sasak yang merupakan gelar kebangsawanan seperti juga disebutkan sebelumnya diantaranya adalah Raden, Lalu, Baiq, Dende atau Gede, tergantung dari daerahnya di Lombok. Namun yang paling populer dan paling banyak dipakai seantero Lombok adalah Lalu atau Baiq. Dan memang secara hirarki gelar Raden stratanya lebih tinggi dibanding Lalu.

Sementara untuk masyarakat Sasak umum, kita sering mendengar nama Mustiarep, Munarep, Mustiari, Munaris, Munerim, Muniri, Rumini, Seneng, Genah, Rumenah, Saimah, Sainah, Jumasih, Jumaah, Jumiri, Jumitri dan lain-lain. Bahkan nama Gubernur NTB sekarang Lalu Serinate, terkesan Sasak tulen.

Sayangnya nama-nama tersebut (nama untuk kalangan umum, bukan gelar kebangsawanan) sudah kurang diminati lagi, mungkin karena terkesan kampungan dan dianggap tidak relevan dengan tujuan memiliki nama sebagai doa (bagi yang beranggapan doa semestinya bahasa Arab).

Nama-nama khas Sasak akan terasa sekali manfaatnya kalau kita di daerah rantau, ketika mendengar seseorang bernama depan Lalu atau Baiq, kita mungkin akan serta merta mengatakan orang tersebut saudara kita dari Lombok. Tapi bagaimana kalau saudara kita tersebut bukan golongan bangsawan, yang berarti tidak menggunakan Lalu atau Baiq, kita mungkin akan kesulitan untuk mengetahuinya secara langsung bahwa dia dari Lombok.

Lalu bagaimanakah seharusnya memberi nama anak kita? Terserah anda.

Mohon maaf kalau ada yang salah.

Ketika Eksistensi Sasak Terancam; Perspektif Awam*

Posted in Opini, Sasak Lombok on November 16, 2007 by yusranil

(Tulisan ini sebagai bahan diskusi di milis Sasaknese dan www.Sasak.org

Menurut teori Sosiologi, ketika suatu komunitas mendapat ancaman dari luar, komunitas tersebut akan menjadi bersatu. Begitu juga yang terjadi pada masyarakat Sasak. Namun sayangnya,  kesadaran akan ancaman tersebut tidak berlaku pada semua masyarakat Sasak, sehingga persatuan yang utuh dan kompak belum bisa terwujud.

Tulisan ini, bertujuan untuk memberikan kesadaran bersama tentang ancaman (perilaku yang tidak positif masyarakat Sasak sekarang bisa menjadi ancaman keberadaan kita apabila tidak segera dibenahi) tersebut sehingga nantinya masyarakat Sasak bisa bersatu padu membangun negerinya.

Pemahaman orang luar tentang Sasak.

Menyebut kata Sasak, bagi orang luar Lombok (selain bagi orang Bima, Sumbawa dan Bali) sangatlah asing kedengarannya. Sebagaian besar mereka yang pernah mendengar suku tersebut, beranggapan Sasak adalah suku terasing dengan kultur keseharian primitive yang tinggal di Lombok. Hal ini disebabkan oleh publikasi media yang menyoroti kehidupan adat suku Sasak lebih sering diwakilkan oleh masyarakat-masyarakat di daerah terpencil, karena di daerah tersebutlah adat sebagai identitas asli dipelihara dengan baik. 

Agama Versus Adat 

Lunturnya budaya-budaya asli masyarakat Sasak, tidak terlepas dengan pengaruh Islam yang begitu kuat di kalangan masyarakat Sasak. Beberapa tarian atau kesenian sekarang sangatlah sulit ditemui karena dianggap bertentangan dengan nilai-nilai ajaran Islam. Rudat, Gandrung, adalah nama tarian yang penulis sendiri tidak pernah bisa menyaksikannya secara langsung.

Bagi pemerhati budaya Sasak, hal tersebut sangat disayangkan, karena di saat orang-orang lain berlomba melestarikan warisan nenek moyangnya, kita justru meruntuhkan budaya-budaya tersebut dengan alasan Islam.

Tidakkah kita bisa menemukan solusi yang lebih arif memahami Islam dengan tidak menghancurkan aset budaya kita dan merobek identitas kita sendiri?

Masyarakat Sasak kehilangan identitas diri.

Disamping itu, bahasa Sasak sebagai salah satu identitas kita, lambat laun berubah menjadi bahasa Sasak yang disesuaikan dengan bahasa sehari-hari, meskipun ini merupakan suatu konsekuensi pertukaran dan pergumulan budaya.

Namun yang menjadi kekhawatiran, bahasa Sasak sebagai bahasa daerah pemersatu menjadi bahasa yang kaku di kalangan generasi muda Sasak. Kata Inaq, Amaq, Tuaq, Amaq rari, dan lainnya lama kelamaan berganti dengan Ayah, mama, Om, Tante dan lain-lain. Siapakah nanti yang akan mengerti dan bisa menggunakannya dengan baik dan tepat bahasa atau istilah-istilah Sasak dulu?

Seperti diberitakan harian Kompas (13 November 2007, www.kompas.co.id), ada 726 bahasa daerah yang terancam punah, hilang dari penuturnya. Akankah bahasa Sasak juga suatu saat kelak akan hilang dari masyarakat Sasak? Itu tergantung dari kita.

Dan sudah hampir punah alasan dan bukti kita dalam menunjukkan ini warna kita. Dan akankah kita mendompleng warna orang lain sebagai warna kita, dan mengatakan dengan bangga kami bagian dari negeri (pengaruh atau jajahan) si A atau si B?

Selain masalah budaya dan adat istiadat, kehidupan masyarakat kita juga nyaris tak beridentitas, masyarakat kita yang terkenal Islami dengan predikat Pulau seribu masjid berubah menjadi masyarakat yang beringas, suka bertengkar dan berselisih. Dan hasilnya, berpuluh-puluh tahun kita tidak pernah mampu mendapatkan pemimpin yang sama yang membawa kita dengan arah dan tujuan yang sama memakmurkan rumah dan masyarakat Sasak. 

Fenomena ketika terpilihnya Lalu Serinate sebagai Gubernur, bisa mencerminkan sikap dan kondisi masyarakat kita. Kondisi yang sangat kritis…..

Masyarakat Sasak umumnya sangat puas dengan terpilihnya orang Sasak asli sebagai pemimpin mereka, setelah berpuluh-puluh tahun dipimpin oleh orang dari luar komunitasnya.Sebuah penantian yang sangat panjang. Mereka menganggap ini kemenangan orang Sasak/Lombok, meski sebagian mereka mengakui kapabilitas calon dari luar komunitas Sasak bisa lebih baik dalam memimpin masyarakat kita.

Kita tidak punya pemimpin yang memiliki kapabilitas yang memadai seperti daerah lain, tapi kita lebih dan sangat tidak mau menjadi komunitas yang hanya menyediakan kaum saja.

Struktur Masyarakat Sasak

Kondisi masyarakat Sasak yang demikian, merupakan cerita panjang yang salah satunya dipengaruhi oleh struktur panutan dalam masyarakat kita, selain dari kronologis sejarah bangsa Indonesia sebagai komunitas induk kita, seperti kolonialisme dan rezim orde baru.

Menurut pengamatan penulis, ada 3 macam karakter panutan dalam struktur masayarakat Sasak. Karakter panutan ini sangat mempengaruhi filosopi berpikir masyarakat, serta mempengaruhi kehidupan politik, pendidikan sampai dengan pilihan profesi. Ketiga tipikal panutan tersebut adalah;

  1. Struktur masyarakat Sasak yang dipimpin atau dipengaruhi lebih banyak oleh Tuan Guru (kiyai), biasanya tipikal masyarakat ini memiliki kultur yang religius, dan mewarnai sebagian besar masyarakat Sasak, sehingga mendapat predikat masyarakat Pulau Seribu Masjid.
  2. Masyarakat Sasak yang dipimpin dan dipengaruhi lebih banyak oleh pemerintah setempat, serta kalangan cerdik pandai, biasanya ditemui di daerah perkotaan dengan komposisi masyarakatnya yang heterogen, dan latar belakang profesi dan pendidikan yang berbeda-beda.
  3. Masyarakat Sasak yang dipimpin dan dipengaruhi lebih banyak oleh pemuka adat, sesepuh desa (sasak; pemangku adat), masyarakat Sasak seperti ini banyak dijumpai di sekitar lereng Gunung Rinjani, seperti Bayan, Santong, Gangga, dan Sembalun.

Dari ketiga tipikal masyrakat tersebut, sebagian besar masyarakat Sasak memiliki karakter pertama dimana kehidupannya dipimpin dan dipengaruhi lebih banyak oleh Tuan Guru. Dan hal ini sangat mempengaruhi kondisi masyarakat Sasak saat ini.

Kegagalan Pemerintah dan kurang berhasilnya Tuan Guru.

Pembangunan di NTB dan Lombok khususnya nyaris bisa disebut stagnan, kehidupan masyarakat sekarang ini lebih tepat disebut sebagai hasil pergeseran waktu ke arah modernisasi (suatu hal yang memang wajar terjadi secara alami), bukan karena karya dan kreativitas yang disponsori atau dimotori oleh kinerja pemerintahan yang brilliant.

Pemerintahan NTB, terutama ketika dipimpin oleh orang-orang luar, sangat jarang bergandengan tangan dengan rakyat-rakyat kodeq Sasak Lombok. Suara rakyat kodeq terbungkam rapat oleh kebodohan dan ketidak-mengertian ini itu. Mereka lebih sering memandang pemerintah sebagai raja-raja yang kepadanya harus jongkok membungkukkan badan memberi hormat daripada harus meminta ini itu untuk difasilitasi. Mereka sangat patuh dengan doktrin “bodo orang Sasak jual Sabo muraq-muraq” . Rakyat lebih sering jadi obyek di meja kerja pemerintah.

Pemerintah gagal menyentuh masyarakat kecil, dan sayangnya mereka juga jarang mau bekerja sama dengan Tuan Guru yang jauh lebih dekat dengan masyarakat Sasak. (Seperti ketika Warsito jadi gubernur NTB selama 2 periode).

Pemerintahan sebelumnya lebih berorientasi pada kekuasaan, tidak punya niat yang tulus untuk memajukan dan meningkatkan kualitas masyarakat Sasak. Kondisi masyarakat Sasak waktu itu, tak ubahnya seperti Indonesia di bawah Belanda. Ada opini-opini tertentu yang melekat pada masyarakat Sasak tentang superioritas etnis tertentu atas etnis Sasak sendiri.  

Bagaimana dengan Tuan Guru? Tuan Guru memiliki peranan yang sangat penting dalam memberi warna masyarakat Sasak saat ini. Di sini ingin disampaikan setidaknya dua peran besar Tuan Guru yang diharapkan kedepan mau dibenahi oleh Tuan Guru.

Yang Pertama tentang perlunya menguasai berbagai macam ilmu pengetahuan. Kondisi masyarakat Sasak yang kekurangan sumber daya manusia (diluar bidang agama Islam), lebih sering disebabkan karena doktrin yang ditanamkan Tuan Guru pada masyarakat Sasak. Sering kita dengar lantunan lagu Sasak yang seolah apabila kita tidak bersekolah seperti yang diinginkan Tuan Guru, kita (masyarakat Sasak) akan rugi dunia akhirat. Siapakah yang mau rugi dunia akhirat?? Kita atau Masyarakat Sasak tentu tidak mau, akhirnya mereka berbondong-bondong masuk pesantren dan melupakan sama sekali ilmu-ilmu lainnya (baca; ilmu dunia) dan bahkan paling ekstrim, ada kalangan tertentu yang seakan mengharamkan kuliah menuntut ilmu umum (baca; selain agama Islam).

Hal tersebutlah yang menyebabkan kita jarang memiliki kader-kader handal yang menguasai ilmu politik, ekonomi, teknologi, dan lain sebagainya. Apakah kita akan terus berharap lulusan pesantren kitalah nantinya yang menjadi Gubernur, mendirikan rumah sakit, membangun pembangkit listrik, jalan, jembatan, dan lain sebagainya?

Yang kedua adalah sikap toleransi antara jamaah pengajian yang satu dengan jamaah pengajian yang lain, organisasi keagamaan yang satu dengan organisasi keagamaan yang lain.

Dalam Islam sendiri, terjadi perbedaan-perbedaan pendapat dan aliran (pluralisme), begitu juga dengan masyarakat Islam Sasak, meskipun cendrung memiliki aliran yang sama, bahkan satu organisasi sekalipun, perbedaanpun tak bisa dielakkan.

Namun sayang, terjadi fanatisme berlebihan tentang Tuan Guru masing-masing jamaah. Dan lebih disayangkan lagi, fanatisme mereka tak bisa diredam oleh ajaran Islam yang lebih pokok sebagai agama Rahmatan lil ‘alamin.  Agama Islam sebagai agama rahmat (baca; kasih sayang) sering dikalahkan oleh siapa Tuan Guru mereka. Rasa sayang sesama warga Sasak dan Islam sekalipun, dicampakkan karena ketidak relaan mereka berbeda Tuan Guru dan pemahaman, maupun pimpinan organisasi.

Dari hal tersebut, kita bisa melihat ketergantungan masyarakat Sasak pada fungsi serta peran Tuan Guru, yang tentu saja ke depan, kita harapkan dapat berperan lebih aktif dalm pembangunan masyarakat Sasak. 

Saya berharap di kemudian hari, masyarakat kita masih rajin pergi mengaji, tapi Tuan Guru juga bisa mengajarkan mereka memahami perbedaan, mengajarkan mereka bahwa kebenaran mutlak hanya milik Tuhan, dan mengajarkan mereka kearifan (ma’rifat) sebagai suatu strata terhormat dalam struktur keimanan seorang muslim.

Perlunya merekonstruksi pemahaman masyarakat 

Masyarakat Sasak seperti masyarakat lain di dunia ini, perlu berbagi tugas dalam menguasai ilmu pengetahuan dan teknologi, ketika seseorang memilih konsentrasi ilmu yang berbeda dengan kita, itu adalah suatu hal yang positif dan memperkaya khazanah pengetahuan komunitas kita.

Masyarakat Sasak juga, seiring dengan bergulirnya waktu, mau tidak mau harus ikut dalam pergelutan globalisasi, pluralisme suatu hal yang mutlak. Penguasaan ilmu pengetahuan di segala sektor menjadi sebuah keharusan untuk membentuk komunitas yang mandiri.

Sehingga kearifan menyikapi perbedaan, penguasaan ilmu dan pengetahuan, penyatuan visi dan misi membangun komunitas Sasak menjadi tantangan kita bersama. 

Perbedaan-perbedaan pemahaman dan penafsiran di tengah masyrakat hendaknya dicermati secara arif, dikomunikasikan dalam diskusi yang ramah dan bersahabat, mengedepankan kebersamaan, dan ketulusan dalam membangun komunitas Sasak.

Selain itu juga, Sasak kini jarang terdengar gaungnya, Sasak terdengar lemah dan kadang terkesan ragu disematkan di dada kita. Siapakah yang akan menyuarakannya kalau bukan kita orang Sasak sendiri.

Marilah kita bangga dan berkarya untuk Sasak kita tercinta. Ini bukan masalah sukuisme, tapi kita memang jarang atau bahkan tidak pernah peduli dengan etnis kita ketika orang lain mencuatkan dan memperkenalkan etnisnya dengan bangga.

Semoga tulisan ini bermanfaat, kritik dan saran silahkan kirim ke email yusranil@yahoo.com.

(* Penulis bukan seorang pemerhati atau peneliti sosial (bidang sosial;awam). Tulisan ini merupakan opini yang didasarkan pada sense penulis selama berkecimpung dan berstatus anggota masyarakat Sasak, tulisan ini (sebagian besar) tidak didasarkan pada data-data hasil penelitian sosial yang ilmiah dan akurat, sehingga tidak bisa dijadikan reference, tapi sebaiknya hanya menjadi bahan renungan untuk konsumsi masyarakat Sasak sendiri).

Listrik dan Pembangunan Lombok; sebuah opini kanak Sasak

Posted in Steam Power Plant (PLTU) on November 8, 2007 by yusranil

Kondisi Ketersediaan Daya Listrik

Secara nasional ketersediaan Listrik di Indonesia sangatlah timpang, dimana sekitar 80% ketersediaan listrik sekarang ini diprioritaskan untuk Pulau Jawa dan Bali, 10% lagi untuk Pulau Sumatera, dan sisanya 10% untuk kebutuhan listrik di kawasan Indonesia Timur termasuk NTB.

Sementara itu di NTB, dalam kurun waktu 1995 hingga 2003, kebutuhan tenaga listrik naik dengan tingkat pertumbuhan rata-rata 11 % per tahun.

Berdasarkan data dari PT. PLN (Persero) Mataram tahun 2004, daya terpasang 166,62 MW dengan daya mampu 95,461 MW, menunjukkan defisit daya listrik NTB sebesar 42,7%.

Sementara untuk Pulau Lombok sendiri, daya terpasang sebesar 113,681 MW atau sekitar 68,22% dengan daya mampu (tersedia) sebesar 59,06 MW (61,86% daya mampu NTB) atau defisit sebesar 48%.

Dari data lain terungkap, di propinsi NTB kabupaten Lombok Tengah merupakan kabupaten paling sedikit menikmati ketersediaan daya listrik dengan cakupan sekitar 83,95% dari total wilayahnya, dan kota Mataram merupakan wilayah paling sejahtera dalam menikmati ketersediaan listrik yang mencapai 100% dari total wilayahnya.

Kondisi tersebut mencerminkan ketidakseimbangan sumber daya yang tersedia dengan kebutuhan masyarakat NTB, serta keadilan sosial yang belum merata bagi seluruh masyarakat.

Ketersediaan sumber daya kelistrikan merupakan sesuatu yang mutlak untuk peningkatan pertumbuhan ekonomi masyarakat. Oleh karena itu, permasalahan ini hendaknya jangan dibiarkan berlarut-larut sehingga menjadi sebuah bom waktu bagi masyarakat NTB.

Sektor Ekonomi Masyarakat 

Sementara itu dari data laju pertumbuhan ekonomi NTB dalam kurun waktu 1995-2003 naik sebesar 7,0%,  yang tercermin pada nilai rata-rata Produk Domestik Regional Brutto (PDRB).

Angka ini sebenarnya bisa ditingkatkan apabila tingkat ketersediaan infrastruktur listrik terpenuhi. Karena hal ini akan berkorelasi positive terhadap peningkatan realisasi investasi di propinsi NTB.

Sektor-sektor pembangunan lain, sangatlah memiliki ketergantungan terhadap ketersediaan tenaga listrik, salah satunya sektor pariwisata yang menjadi andalan di NTB khususnya di Pulau Lombok. Pariwisata yang mengedepankan kenyamanan bagi tamu-tamunya, akan sangat terganggu dengan adanya pemadaman bergilir yang dilakukan PLN.

Wacana Pembangunan PLTU Teluk Endok

Rencana Pembangunan PLTU Teluk Endok, merupakan suatu jawaban pemerintah atas kebutuhan ketersediaan energi listrik bagi masyarakat Pulau Lombok. PLTU tersebut direncanakan memiliki kapasitas 2×25 MW yang berlokasi di Teluk Endok, sebelah selatan kota Mataram.

Namun sayangnya, hingga saat ini belum ada kejelasan kapan pembangunan Power Plant tersebut direalisasikan. Mengingat kebutuhan masyarakat yang mendesak, sebaiknya pihak pihak PLN membuka diri dengan kemungkinan masuknya Independent Power Plant.

PT. PLN bersama-sama dengan pemerintah NTB hendaknya segera mengambil tindakan dengan mengundang investor untuk pengadaan Power Plant, melalui mekanisme Independent Power Plant (IPP). Dimana dengan mekianisme ini, produksi listrik akan dilakukan oleh sektor swasta, kemudian PLN membeli listrik tersebut melalui prosedur Power Purchase Agreement untuk dijual lagi kepada masyarakat.

Hal ini sudah ditempuh oleh daerah-daerah lain untuk pemenuhan kebutuhan listrik di daerahnya.

Power Plant yang ramah lingkungan 

Terkait dengan isu lingkungan dan pemanasan global, serta Lombok sebagai salah satu ikon pariwisata di Indonesia, adanya Power Plant bisa menimbulkan dampak bagi lingkungan sekitar. Sehingga dalam pelaksanaannya nanti, harus ditekankan suatu sistem Power Plant yang betul-betul ramah lingkungan.

Power Plant tersebut diharapkan dapat menerapkan peraturan Bank Dunia yang mensyaratkan Total Suspended Particle (TSP) sebesar 50 mg/Nm3 pada emisi gas buangnya. Besaran tersebut lebih baik dibandingkan dengan besaran yang dipersyaratkan Kepmen KLH  tahun 1995 yang hanya menetapkan 150 mg/m3.

Untuk mencapai hal tersebut, perlu kiranya dipertimbangkan penggunaan teknologi Power Plant terkini dengan meninggalkan sistem konvensional, seperti mengganti penggunaan Pulverized Coal Boiler (PC Boiler) dengan sistem Circulating Fluidized Bed Boiler (CFB Boiler), harus juga dilengkapi dengan Waste Water Treatment Plant, Flue Gas Desulphurization (FGD), kontrol limbah dari Coal dan Ash Yard untuk betul-betul memastikan dampak lingkungan seminimal mungkin.

Other Reference:

www.ntb.go.id