Sekilas Nahdlatul Wathan
Nahdlatul Wathan (NW) merupakan sebuah organisasi masyarakat keagamaan terbesar di propinsi NTB. Organisasi ini didirikan oleh almarhum Tuan Guru Kiyai Haji M. Zainuddin Abdul Madjid di Pancor Lombok Timur. Organisasi ini bergerak di bidang Sosial, Dakwah Islamiyah dan Pendidikan.
Dalam perannya sebagai organisasi Dakwah Islamiyah, NW didukung oleh banyak kiyai yang dalam istilah masyarakat Lombok disebut Tuan Guru. Tuan Guru inilah yang secara rutin memberikan ceramah-ceramah keagamaan di Masjid-masjid, musholla, dan pondok pesantren yang lazim disebut “pengajian”.
Sementara sebagai organisasi Pendidikan, NW memiliki ratusan madrasah-madrasah (sekolah keagamaan) yang tersebar hampir di seluruh pelosok Indonesia, dengan sentra utama di Pulau Lombok. Organisasi ini juga memiliki sekolah-sekolah umum bahkan beberapa Perguruan Tinggi.
Pondok Pesantren yang cukup besar yang dikelola oleh Nahdlatul Wathan adalah Pondok Pesantren Darunnahdlatain, dan Ma’had Daarul Qur’an Wal Hadits sebagai sentra penggemblengan santri-santrinya dalam memahami Al-Qur’an dan Al-Hadits. Sementara Perguruan Tinggi yang dikelola antara lain Universitas Nahdlatul Wathan di Mataram, dan STKIP Hamzanwadi di Pancor kota Selong Lombok Timur.
Desa Rensing
Desa Rensing terletak di sebelah selatan Pancor. Dimana Pancor merupakan sentra kegiatan organisasi Nahdlatul Wathan. Desa Rensing ini terletak di Kecamatan Sakra Barat dan menjadi ibukota kecamatan tersebut, setelah mengalami pemekaran dari kecamatan Sakra.
Yang menarik, desa Rensing ini merupakan salah satu basis utama Nahdlatul Wathan. Makanya tidak heran, di desa ini terdapat sekitar 3 MI NW, 3 Madrasah Tsanawiyah NW, 2 MA NW, 1 SMU NW dan beberapa kelas jauh dari perguruan tinggi di bawah naungan Nahdlatul Wathan.
Keberadaan Nahdlatul Wathan yang diterima luas oleh masyarkat desa Rensing, tidak lepas dari karakter masyarakatnya yang Islami, bahkan seperti penuturan Prof.Dr.Mansur Ma’shum, (salah seorang tokoh asal desa Rensing yang sekarang menjadi rektor Universitas Mataram) ketika ada iring-iringan kelentang, gendang beleq (alat kesenian tradisional suku Sasak yang dipentaskan pada acara pernikahan) yang melewati Rensing, mereka sangat respect dengan kultur religius masyarakat Rensing dengan tidak membunyikan alat kesenian tersebut.
Makanya tidak mengherankan, kalau dari desa ini banyak terlahir Tuan Guru yang secara terus menerus memberikan pengajian (siraman rohani keagamaan) kepada masyarakat di sana.
Namun sayangnya, semenjak terjadinya perpecahan dalam organisasi Nahdlatul Wathan, menimbulkan dampak juga bagi kehidupan masyarakat desa Rensing. Dan lebih disayangkan lagi, banyak masyarakat Rensing yang belum siap menghadapi perbedaan-perbedaan dalam masyarakat yang semula kompak dan bersatu tersebut dalam suatu naungan organisasi Nahdlatul Wathan.
Sementara sebagian masyarakat desa Rensing yang tidak berkecimpung langsung dalam memanasnya perbedaan kedua kubu tersebut, mulai menyadari ada sesuatu yang kurang tepat dalam pendidikan masyarakat. Masyarakat umum yang sehari-harinya pergi mengaji (menuntut ilmu), ternyata belum cukup arif dalam menghadapi perbedaan-perbedaan dalam komunitasnya. Padahal perbedaan adalah suatu realitas yang mutlak.
Ditengarai, hal tersebut dikarenakan pengajian (ceramah agama) yang disampaikan Tuan Guru lebih berorientasi pada pahala dan kehidupan akhirat semata, tanpa memiliki visi misi yang jelas untuk pembangunan mental dan karakter ummat, ke arah mana masyarakat akan dibawa, sehingga bisa menjadi lebih arif dalam menghadapi perbedaan. Sayangnya, pengajian yang lebih berorientasi kepada pahala dan akhirat, sering diartikan oleh masyarakat awam, sebagai suatu hal yang memiliki kebenaran absolut, sehingga merekapun sering menafikan kebenaran-kebenaran di luar komunitas mereka. Tidak mengherankan kalau mereka berpikir cara mereka shalat, puasa dan lainnya adalah cara yang paling benar seantero dunia. Mereka kemudian menyalahkan metode orang di luar mereka tanpa pernah mau memperhatikan secara detail dan logis terhadap konsep kebenaran metode tersebut.
Penulis sendiri pernah merasakan tekanan yang cukup mendalam sewaktu memilih SMP dan bukan Madrasah Tsanawiyah sebagai tempat sekolah ketika tamat SD dulu. Mereka menilai, dengan bersekolah di SMP kita hanya memikirkan kehidupan dunia semata dan tidak memperhatikan akhirat kita. Mereka tidak pernah berpikir, kalau masyarakat kita juga perlu untuk menguasai pengetahuan-pengetahuan umum lainnya.
Menurut pendapat saya, hal itu juga yang melatar belakangi seorang sastrawan lokal asal Rensing sendiri, Salman Alfarisi membuat sebuah novel berjudul “Tuan Guru” yang diberitakan harian lokal NTB sebagai Sastrawan menggugat Tuan Guru
Itulah sedikit gambaran kehidupan masyarakat saya di desa Rensing. Saya berharap di kemudian hari, masyarakat disana masih rajin pergi mengaji, tapi Tuan Guru juga bisa mengajarkan mereka memahami perbedaan, mengajarkan mereka bahwa kebenaran mutlak hanya milik Tuhan, dan mengajarkan mereka kearifan sebagai suatu strata terhormat dalam struktur keimanan seorang muslim.