Arsip untuk November, 2007

Ketika Eksistensi Sasak Terancam; Perspektif Awam*

Posted in Opini, Sasak Lombok on November 16, 2007 by yusranil

(Tulisan ini sebagai bahan diskusi di milis Sasaknese dan www.Sasak.org

Menurut teori Sosiologi, ketika suatu komunitas mendapat ancaman dari luar, komunitas tersebut akan menjadi bersatu. Begitu juga yang terjadi pada masyarakat Sasak. Namun sayangnya,  kesadaran akan ancaman tersebut tidak berlaku pada semua masyarakat Sasak, sehingga persatuan yang utuh dan kompak belum bisa terwujud.

Tulisan ini, bertujuan untuk memberikan kesadaran bersama tentang ancaman (perilaku yang tidak positif masyarakat Sasak sekarang bisa menjadi ancaman keberadaan kita apabila tidak segera dibenahi) tersebut sehingga nantinya masyarakat Sasak bisa bersatu padu membangun negerinya.

Pemahaman orang luar tentang Sasak.

Menyebut kata Sasak, bagi orang luar Lombok (selain bagi orang Bima, Sumbawa dan Bali) sangatlah asing kedengarannya. Sebagaian besar mereka yang pernah mendengar suku tersebut, beranggapan Sasak adalah suku terasing dengan kultur keseharian primitive yang tinggal di Lombok. Hal ini disebabkan oleh publikasi media yang menyoroti kehidupan adat suku Sasak lebih sering diwakilkan oleh masyarakat-masyarakat di daerah terpencil, karena di daerah tersebutlah adat sebagai identitas asli dipelihara dengan baik. 

Agama Versus Adat 

Lunturnya budaya-budaya asli masyarakat Sasak, tidak terlepas dengan pengaruh Islam yang begitu kuat di kalangan masyarakat Sasak. Beberapa tarian atau kesenian sekarang sangatlah sulit ditemui karena dianggap bertentangan dengan nilai-nilai ajaran Islam. Rudat, Gandrung, adalah nama tarian yang penulis sendiri tidak pernah bisa menyaksikannya secara langsung.

Bagi pemerhati budaya Sasak, hal tersebut sangat disayangkan, karena di saat orang-orang lain berlomba melestarikan warisan nenek moyangnya, kita justru meruntuhkan budaya-budaya tersebut dengan alasan Islam.

Tidakkah kita bisa menemukan solusi yang lebih arif memahami Islam dengan tidak menghancurkan aset budaya kita dan merobek identitas kita sendiri?

Masyarakat Sasak kehilangan identitas diri.

Disamping itu, bahasa Sasak sebagai salah satu identitas kita, lambat laun berubah menjadi bahasa Sasak yang disesuaikan dengan bahasa sehari-hari, meskipun ini merupakan suatu konsekuensi pertukaran dan pergumulan budaya.

Namun yang menjadi kekhawatiran, bahasa Sasak sebagai bahasa daerah pemersatu menjadi bahasa yang kaku di kalangan generasi muda Sasak. Kata Inaq, Amaq, Tuaq, Amaq rari, dan lainnya lama kelamaan berganti dengan Ayah, mama, Om, Tante dan lain-lain. Siapakah nanti yang akan mengerti dan bisa menggunakannya dengan baik dan tepat bahasa atau istilah-istilah Sasak dulu?

Seperti diberitakan harian Kompas (13 November 2007, www.kompas.co.id), ada 726 bahasa daerah yang terancam punah, hilang dari penuturnya. Akankah bahasa Sasak juga suatu saat kelak akan hilang dari masyarakat Sasak? Itu tergantung dari kita.

Dan sudah hampir punah alasan dan bukti kita dalam menunjukkan ini warna kita. Dan akankah kita mendompleng warna orang lain sebagai warna kita, dan mengatakan dengan bangga kami bagian dari negeri (pengaruh atau jajahan) si A atau si B?

Selain masalah budaya dan adat istiadat, kehidupan masyarakat kita juga nyaris tak beridentitas, masyarakat kita yang terkenal Islami dengan predikat Pulau seribu masjid berubah menjadi masyarakat yang beringas, suka bertengkar dan berselisih. Dan hasilnya, berpuluh-puluh tahun kita tidak pernah mampu mendapatkan pemimpin yang sama yang membawa kita dengan arah dan tujuan yang sama memakmurkan rumah dan masyarakat Sasak. 

Fenomena ketika terpilihnya Lalu Serinate sebagai Gubernur, bisa mencerminkan sikap dan kondisi masyarakat kita. Kondisi yang sangat kritis…..

Masyarakat Sasak umumnya sangat puas dengan terpilihnya orang Sasak asli sebagai pemimpin mereka, setelah berpuluh-puluh tahun dipimpin oleh orang dari luar komunitasnya.Sebuah penantian yang sangat panjang. Mereka menganggap ini kemenangan orang Sasak/Lombok, meski sebagian mereka mengakui kapabilitas calon dari luar komunitas Sasak bisa lebih baik dalam memimpin masyarakat kita.

Kita tidak punya pemimpin yang memiliki kapabilitas yang memadai seperti daerah lain, tapi kita lebih dan sangat tidak mau menjadi komunitas yang hanya menyediakan kaum saja.

Struktur Masyarakat Sasak

Kondisi masyarakat Sasak yang demikian, merupakan cerita panjang yang salah satunya dipengaruhi oleh struktur panutan dalam masyarakat kita, selain dari kronologis sejarah bangsa Indonesia sebagai komunitas induk kita, seperti kolonialisme dan rezim orde baru.

Menurut pengamatan penulis, ada 3 macam karakter panutan dalam struktur masayarakat Sasak. Karakter panutan ini sangat mempengaruhi filosopi berpikir masyarakat, serta mempengaruhi kehidupan politik, pendidikan sampai dengan pilihan profesi. Ketiga tipikal panutan tersebut adalah;

  1. Struktur masyarakat Sasak yang dipimpin atau dipengaruhi lebih banyak oleh Tuan Guru (kiyai), biasanya tipikal masyarakat ini memiliki kultur yang religius, dan mewarnai sebagian besar masyarakat Sasak, sehingga mendapat predikat masyarakat Pulau Seribu Masjid.
  2. Masyarakat Sasak yang dipimpin dan dipengaruhi lebih banyak oleh pemerintah setempat, serta kalangan cerdik pandai, biasanya ditemui di daerah perkotaan dengan komposisi masyarakatnya yang heterogen, dan latar belakang profesi dan pendidikan yang berbeda-beda.
  3. Masyarakat Sasak yang dipimpin dan dipengaruhi lebih banyak oleh pemuka adat, sesepuh desa (sasak; pemangku adat), masyarakat Sasak seperti ini banyak dijumpai di sekitar lereng Gunung Rinjani, seperti Bayan, Santong, Gangga, dan Sembalun.

Dari ketiga tipikal masyrakat tersebut, sebagian besar masyarakat Sasak memiliki karakter pertama dimana kehidupannya dipimpin dan dipengaruhi lebih banyak oleh Tuan Guru. Dan hal ini sangat mempengaruhi kondisi masyarakat Sasak saat ini.

Kegagalan Pemerintah dan kurang berhasilnya Tuan Guru.

Pembangunan di NTB dan Lombok khususnya nyaris bisa disebut stagnan, kehidupan masyarakat sekarang ini lebih tepat disebut sebagai hasil pergeseran waktu ke arah modernisasi (suatu hal yang memang wajar terjadi secara alami), bukan karena karya dan kreativitas yang disponsori atau dimotori oleh kinerja pemerintahan yang brilliant.

Pemerintahan NTB, terutama ketika dipimpin oleh orang-orang luar, sangat jarang bergandengan tangan dengan rakyat-rakyat kodeq Sasak Lombok. Suara rakyat kodeq terbungkam rapat oleh kebodohan dan ketidak-mengertian ini itu. Mereka lebih sering memandang pemerintah sebagai raja-raja yang kepadanya harus jongkok membungkukkan badan memberi hormat daripada harus meminta ini itu untuk difasilitasi. Mereka sangat patuh dengan doktrin “bodo orang Sasak jual Sabo muraq-muraq” . Rakyat lebih sering jadi obyek di meja kerja pemerintah.

Pemerintah gagal menyentuh masyarakat kecil, dan sayangnya mereka juga jarang mau bekerja sama dengan Tuan Guru yang jauh lebih dekat dengan masyarakat Sasak. (Seperti ketika Warsito jadi gubernur NTB selama 2 periode).

Pemerintahan sebelumnya lebih berorientasi pada kekuasaan, tidak punya niat yang tulus untuk memajukan dan meningkatkan kualitas masyarakat Sasak. Kondisi masyarakat Sasak waktu itu, tak ubahnya seperti Indonesia di bawah Belanda. Ada opini-opini tertentu yang melekat pada masyarakat Sasak tentang superioritas etnis tertentu atas etnis Sasak sendiri.  

Bagaimana dengan Tuan Guru? Tuan Guru memiliki peranan yang sangat penting dalam memberi warna masyarakat Sasak saat ini. Di sini ingin disampaikan setidaknya dua peran besar Tuan Guru yang diharapkan kedepan mau dibenahi oleh Tuan Guru.

Yang Pertama tentang perlunya menguasai berbagai macam ilmu pengetahuan. Kondisi masyarakat Sasak yang kekurangan sumber daya manusia (diluar bidang agama Islam), lebih sering disebabkan karena doktrin yang ditanamkan Tuan Guru pada masyarakat Sasak. Sering kita dengar lantunan lagu Sasak yang seolah apabila kita tidak bersekolah seperti yang diinginkan Tuan Guru, kita (masyarakat Sasak) akan rugi dunia akhirat. Siapakah yang mau rugi dunia akhirat?? Kita atau Masyarakat Sasak tentu tidak mau, akhirnya mereka berbondong-bondong masuk pesantren dan melupakan sama sekali ilmu-ilmu lainnya (baca; ilmu dunia) dan bahkan paling ekstrim, ada kalangan tertentu yang seakan mengharamkan kuliah menuntut ilmu umum (baca; selain agama Islam).

Hal tersebutlah yang menyebabkan kita jarang memiliki kader-kader handal yang menguasai ilmu politik, ekonomi, teknologi, dan lain sebagainya. Apakah kita akan terus berharap lulusan pesantren kitalah nantinya yang menjadi Gubernur, mendirikan rumah sakit, membangun pembangkit listrik, jalan, jembatan, dan lain sebagainya?

Yang kedua adalah sikap toleransi antara jamaah pengajian yang satu dengan jamaah pengajian yang lain, organisasi keagamaan yang satu dengan organisasi keagamaan yang lain.

Dalam Islam sendiri, terjadi perbedaan-perbedaan pendapat dan aliran (pluralisme), begitu juga dengan masyarakat Islam Sasak, meskipun cendrung memiliki aliran yang sama, bahkan satu organisasi sekalipun, perbedaanpun tak bisa dielakkan.

Namun sayang, terjadi fanatisme berlebihan tentang Tuan Guru masing-masing jamaah. Dan lebih disayangkan lagi, fanatisme mereka tak bisa diredam oleh ajaran Islam yang lebih pokok sebagai agama Rahmatan lil ‘alamin.  Agama Islam sebagai agama rahmat (baca; kasih sayang) sering dikalahkan oleh siapa Tuan Guru mereka. Rasa sayang sesama warga Sasak dan Islam sekalipun, dicampakkan karena ketidak relaan mereka berbeda Tuan Guru dan pemahaman, maupun pimpinan organisasi.

Dari hal tersebut, kita bisa melihat ketergantungan masyarakat Sasak pada fungsi serta peran Tuan Guru, yang tentu saja ke depan, kita harapkan dapat berperan lebih aktif dalm pembangunan masyarakat Sasak. 

Saya berharap di kemudian hari, masyarakat kita masih rajin pergi mengaji, tapi Tuan Guru juga bisa mengajarkan mereka memahami perbedaan, mengajarkan mereka bahwa kebenaran mutlak hanya milik Tuhan, dan mengajarkan mereka kearifan (ma’rifat) sebagai suatu strata terhormat dalam struktur keimanan seorang muslim.

Perlunya merekonstruksi pemahaman masyarakat 

Masyarakat Sasak seperti masyarakat lain di dunia ini, perlu berbagi tugas dalam menguasai ilmu pengetahuan dan teknologi, ketika seseorang memilih konsentrasi ilmu yang berbeda dengan kita, itu adalah suatu hal yang positif dan memperkaya khazanah pengetahuan komunitas kita.

Masyarakat Sasak juga, seiring dengan bergulirnya waktu, mau tidak mau harus ikut dalam pergelutan globalisasi, pluralisme suatu hal yang mutlak. Penguasaan ilmu pengetahuan di segala sektor menjadi sebuah keharusan untuk membentuk komunitas yang mandiri.

Sehingga kearifan menyikapi perbedaan, penguasaan ilmu dan pengetahuan, penyatuan visi dan misi membangun komunitas Sasak menjadi tantangan kita bersama. 

Perbedaan-perbedaan pemahaman dan penafsiran di tengah masyrakat hendaknya dicermati secara arif, dikomunikasikan dalam diskusi yang ramah dan bersahabat, mengedepankan kebersamaan, dan ketulusan dalam membangun komunitas Sasak.

Selain itu juga, Sasak kini jarang terdengar gaungnya, Sasak terdengar lemah dan kadang terkesan ragu disematkan di dada kita. Siapakah yang akan menyuarakannya kalau bukan kita orang Sasak sendiri.

Marilah kita bangga dan berkarya untuk Sasak kita tercinta. Ini bukan masalah sukuisme, tapi kita memang jarang atau bahkan tidak pernah peduli dengan etnis kita ketika orang lain mencuatkan dan memperkenalkan etnisnya dengan bangga.

Semoga tulisan ini bermanfaat, kritik dan saran silahkan kirim ke email yusranil@yahoo.com.

(* Penulis bukan seorang pemerhati atau peneliti sosial (bidang sosial;awam). Tulisan ini merupakan opini yang didasarkan pada sense penulis selama berkecimpung dan berstatus anggota masyarakat Sasak, tulisan ini (sebagian besar) tidak didasarkan pada data-data hasil penelitian sosial yang ilmiah dan akurat, sehingga tidak bisa dijadikan reference, tapi sebaiknya hanya menjadi bahan renungan untuk konsumsi masyarakat Sasak sendiri).

Listrik dan Pembangunan Lombok; sebuah opini kanak Sasak

Posted in Steam Power Plant (PLTU) on November 8, 2007 by yusranil

Kondisi Ketersediaan Daya Listrik

Secara nasional ketersediaan Listrik di Indonesia sangatlah timpang, dimana sekitar 80% ketersediaan listrik sekarang ini diprioritaskan untuk Pulau Jawa dan Bali, 10% lagi untuk Pulau Sumatera, dan sisanya 10% untuk kebutuhan listrik di kawasan Indonesia Timur termasuk NTB.

Sementara itu di NTB, dalam kurun waktu 1995 hingga 2003, kebutuhan tenaga listrik naik dengan tingkat pertumbuhan rata-rata 11 % per tahun.

Berdasarkan data dari PT. PLN (Persero) Mataram tahun 2004, daya terpasang 166,62 MW dengan daya mampu 95,461 MW, menunjukkan defisit daya listrik NTB sebesar 42,7%.

Sementara untuk Pulau Lombok sendiri, daya terpasang sebesar 113,681 MW atau sekitar 68,22% dengan daya mampu (tersedia) sebesar 59,06 MW (61,86% daya mampu NTB) atau defisit sebesar 48%.

Dari data lain terungkap, di propinsi NTB kabupaten Lombok Tengah merupakan kabupaten paling sedikit menikmati ketersediaan daya listrik dengan cakupan sekitar 83,95% dari total wilayahnya, dan kota Mataram merupakan wilayah paling sejahtera dalam menikmati ketersediaan listrik yang mencapai 100% dari total wilayahnya.

Kondisi tersebut mencerminkan ketidakseimbangan sumber daya yang tersedia dengan kebutuhan masyarakat NTB, serta keadilan sosial yang belum merata bagi seluruh masyarakat.

Ketersediaan sumber daya kelistrikan merupakan sesuatu yang mutlak untuk peningkatan pertumbuhan ekonomi masyarakat. Oleh karena itu, permasalahan ini hendaknya jangan dibiarkan berlarut-larut sehingga menjadi sebuah bom waktu bagi masyarakat NTB.

Sektor Ekonomi Masyarakat 

Sementara itu dari data laju pertumbuhan ekonomi NTB dalam kurun waktu 1995-2003 naik sebesar 7,0%,  yang tercermin pada nilai rata-rata Produk Domestik Regional Brutto (PDRB).

Angka ini sebenarnya bisa ditingkatkan apabila tingkat ketersediaan infrastruktur listrik terpenuhi. Karena hal ini akan berkorelasi positive terhadap peningkatan realisasi investasi di propinsi NTB.

Sektor-sektor pembangunan lain, sangatlah memiliki ketergantungan terhadap ketersediaan tenaga listrik, salah satunya sektor pariwisata yang menjadi andalan di NTB khususnya di Pulau Lombok. Pariwisata yang mengedepankan kenyamanan bagi tamu-tamunya, akan sangat terganggu dengan adanya pemadaman bergilir yang dilakukan PLN.

Wacana Pembangunan PLTU Teluk Endok

Rencana Pembangunan PLTU Teluk Endok, merupakan suatu jawaban pemerintah atas kebutuhan ketersediaan energi listrik bagi masyarakat Pulau Lombok. PLTU tersebut direncanakan memiliki kapasitas 2×25 MW yang berlokasi di Teluk Endok, sebelah selatan kota Mataram.

Namun sayangnya, hingga saat ini belum ada kejelasan kapan pembangunan Power Plant tersebut direalisasikan. Mengingat kebutuhan masyarakat yang mendesak, sebaiknya pihak pihak PLN membuka diri dengan kemungkinan masuknya Independent Power Plant.

PT. PLN bersama-sama dengan pemerintah NTB hendaknya segera mengambil tindakan dengan mengundang investor untuk pengadaan Power Plant, melalui mekanisme Independent Power Plant (IPP). Dimana dengan mekianisme ini, produksi listrik akan dilakukan oleh sektor swasta, kemudian PLN membeli listrik tersebut melalui prosedur Power Purchase Agreement untuk dijual lagi kepada masyarakat.

Hal ini sudah ditempuh oleh daerah-daerah lain untuk pemenuhan kebutuhan listrik di daerahnya.

Power Plant yang ramah lingkungan 

Terkait dengan isu lingkungan dan pemanasan global, serta Lombok sebagai salah satu ikon pariwisata di Indonesia, adanya Power Plant bisa menimbulkan dampak bagi lingkungan sekitar. Sehingga dalam pelaksanaannya nanti, harus ditekankan suatu sistem Power Plant yang betul-betul ramah lingkungan.

Power Plant tersebut diharapkan dapat menerapkan peraturan Bank Dunia yang mensyaratkan Total Suspended Particle (TSP) sebesar 50 mg/Nm3 pada emisi gas buangnya. Besaran tersebut lebih baik dibandingkan dengan besaran yang dipersyaratkan Kepmen KLH  tahun 1995 yang hanya menetapkan 150 mg/m3.

Untuk mencapai hal tersebut, perlu kiranya dipertimbangkan penggunaan teknologi Power Plant terkini dengan meninggalkan sistem konvensional, seperti mengganti penggunaan Pulverized Coal Boiler (PC Boiler) dengan sistem Circulating Fluidized Bed Boiler (CFB Boiler), harus juga dilengkapi dengan Waste Water Treatment Plant, Flue Gas Desulphurization (FGD), kontrol limbah dari Coal dan Ash Yard untuk betul-betul memastikan dampak lingkungan seminimal mungkin.

Other Reference:

www.ntb.go.id